Agnes Monica Masuk Deretan Selebritas Berpakaian Terburuk

- 24 Februari 2013 11:11 wib
<p>instagram.com/AgnesMonicaZone--rj</p>

instagram.com/AgnesMonicaZone--rj


Metrotvnews.com, New York: Sebuah laman daring hiburan asal New York Buzz Feed menobatkan Agnes Monica sebagai selebritas dengan pakaian terburuk yang didapatkan melalui voting para pembacanya.

Agnes mendapat sorotan media Amerika Serikat saat tampil di ajang mPowering Action Pre Grammy Celebration 2013, ajang sebelum malam penghargaan Grammy Awards 10 Februari lalu di Los Angeles.

Agnes, malam itu, mengenakan atasan bikini yang dihiasi manik-manik dan ditutup rompi batik berwarna cokelat lengkap dengan celana pendek jeans robek-robek serta sepatu boots cokelat.

Agnes berada di posisi kedua selebritas dengan pakaian terburuk dengan 317 suara. Posisi pertama ditempati Aubrey O'Day saat tampil di The Grove dengan mendapat 329 suara. Posisi ketiga diduduki Kim Kardashian yang mengenakan jumpsuit hitam dengan atasan transparan saat keluar dari rumahnya.

Posisi keempat selebritas pakaian terburuk ada Jojo yang tampil di ajang BET Music Matters Grammy Showcase dengan memperoleh 267 suara. Sarah Jessica Parker menduduki posisi kelima selebritas pakaian terburuk saat tampil di ajang The 2013 AmfAR New York Gala dengan mendapat 260 suara.

Tidak hanya menampilkan lima selebritas dengan pakaian terburuk, situs Buzz Feed juga menampilkan lima selebritas dengan pakaian terbaik.

Katy Perry meraih urutan kelima selebritas dengan pakaian terbaik saat tampil dengan gaun oranye di ajang The MusiCares Person Of The Year Honoring Bruce Sprinsteen. Di urutan keempat ada Minka Kelly, dilanjutkan dengan aktor muda Eddie Redmayne di urutan ketiga.

Posisi kedua ditempati oleh Kendall dan Kylie Jenner semantara posisi pertama diduduki oleh Patricia Clarkson yang tampil anggun dengan gaun tube warna biru dan belt emas di pinggangnya. (Torie Natallova/Bas)


()

LIFE
MORE

Mata Najwa: Melawan Arus

02 September 2014 21:09 wib

Mata Najwa: Perbedaan pendapat merupakan hal yang umum terjadi dan dijamin kebebasannya dalam UU negara. Namun ternyata di negara demokratis ini, perbedaan pendapat dan pandangan justru sulit diterima di sejumlah partai politik.  Sejumlah anggota yang memilih untuk melawan arus, harus menghadapi resiko menerima sanksi.  Reformasi dalam partai politik pun seakan tak berbunyi. Sebagai pilar demokrasi, partai politik malah jadi sumber masalah. Kaderisasi tak berjalan, hanya mencari kawan yang sepaham, sementara idealism tak lagi diusung ke depan.   Namun…