Konser Etnik Jazz Nestorman Universalkan Budaya Lokal

- 28 April 2013 10:14 wib
Ist
Ist

LAYAR Merah panggung di gedung OMK Kota Larantuka, NTT, Sabtu (27/4) malam, lambat laun dibuka.

Gemericik suara seruling meliuk-liuk di tengah rithm gitar akustik. Auman rythm gitar Bass setia memandu nada-nada, selaras hentakan drum.

Angin, satu nomor lagu dari Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, mulai mengalun di gedung serba guna itu. Ribuan penonton mulai menggoyangkan kepala.

Pria berambut gimbal mengenakan kaos merah ber sarung motif Lamalera, duduk menghadap mic yang ditata melengkung.

"Angin mengisahkan desiran angin yang lembut di Pulau Rinca, selalu memberi spirit bagi umat manusia untuk menatap dunia," ujar pria gimbal itu.

Yaah...Ivan Nestorman (gitar/vocal), Andre de Roma (drum), Vinsen (keyboard/sintesizer), Yansen (Flute) Yosi (Bass), Dedy (guitar). Laki-laki Flores ini membentuk Lamalera Band, memadukan konsep musik Jazz dengan lagu-lagu tradisional Flores Timur.

Aliran musik jenis ini sangat jarang didengar kuping orang Flores dan Indonesia pada umumnya, yang masih menyukai musik pop dan danggdut. Beruntung, lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu lokal Flores yang sudah sangat mengakar, lalu diaransemen ulang dalam konsep jazz.    
 
"Kita boleh hidup di era globalisasi, teknologi canggih boleh saja mengisi seluruh nafas hidup manusia. Tetapi jangan pernah lupa budaya lokal. Nilai budaya yang membentuk karakter anak bangsa," ujar Nestorman usai menyanyikan lagu Lamalera, Piring Matahari. 

Di Gedung OMK malam itu, Ivan Nestorman menggaet Trie Utami. Perempuan berperawakan kecil yang akrab disapa Mba I'I,  membawakan lagu-lagu khas Flores Timur yang terkenal dengan irama dolo-dolo.

"Kita adalah orang-orang yang hidup di tanah ini, jangan pernah lupa pulang, Mba I'I menyanyikan lagu Doan Kae, lagu rakyat Flores Timur yang sudah mengakar.

Sontak saja, koor besar mengiringi suara emas Trie Utami, membahana di seantero gedung OMK.

Sentuhan-sentuhan musik tradisi setempat dipadu Sentuhan konsep Jazz yang kental, sangat menghidupkan suasana.

Tidak terasa, 30 nomor lagu dibawakan malam itu, selalu diiringi tari-tarian penonton. Mereka larut dalam tarian massal setempat yakni dolo-dolo, ja'i dan rokotenda.

Sesekali penonton berdecak kagum dengan "rumitnya" nada-nada Jazz yang dimainkan personel Lamalera Band di tengah lantunan lagu berirama Jazz kental dalam bahasa asing.  

Ivan Nestorman, memang nekad. Kendati bergelut di industri musik nasional, tetapi nekad meramu musik yang tidak biasa. Nestorman sadar, musiknya ibarat menjual es di kutub. Tetapi satu hal yang ingin dia sampaikan, memperkenalkan budaya lokal Indonesia di kancah music dunia.

"Saat ini, ada genre musik yang disebut world music, musik lokal 'diamplopi' dengan musik yang lebih bisa diterima secara universal. NTT punya dolo-dolo dan musik sasando, namun kekayaan budaya bangsa ini yang saya kemas
Untuk dicintai secara universal. Maka saya kira konsep jazz bisa jadi pilhan universal," ujar Nestorman.

Trie Utami, usai konsernya, menjelaskan, budaya yang dikemas dalam musik ini akan meluruskan budaya, kemanusiaan dan tradisi.

"Berbagi musik, kita berbagi keindahan, tetapi lebih dari itu, Flores dan NTT harus kembali kepada tradisi. Karena itu adalah berlian yang sangat luar biasa, membentuk karakter nusantara," ujar Mba I'I.

Sementara, Frengki Letor, salah satu penikmat musik Nestorman mengatakan, saat ini banyak lagu modern yang asal modern. Konsep jazz yang ditampilkan Ivan bernuansa etnik jazz, bisa diterima.

"Saya pribadi sangat merasakan keindahan jaZZ saat dimainkan grup Ini. Mudah-mudahan melalui Ivan dan Kawan-kawan, budaya NTT pada umumnya bisa juga dicintai secara universal," ujar Letor. (Alexander)


()

MUSIK
MORE

Mata Najwa: Babak Baru Indonesia (6)

23 Juli 2014 23:23 wib

Mata Najwa, Rabu (23/07/2014): di Mata Najwa kali ini dengan tema 'Babak Baru Indonesia', hadir di Mata Najwa yaitu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto. Pakar hukum tata negara, Zaenal Arifin Mochtar. Direktur eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha dan wakil presiden terpilih Jusuf Kalla