Mengulik Perahu Naga Khas Dayak

- 29 April 2013 05:41 wib
Antara/Fanny Octavianus/vg
Antara/Fanny Octavianus/vg

Metrotvnews.com, Jakarta: Tradisi Dayak memang menarik untuk dipelajari. Banyak sisi lain yang menarik tetapi belum banyak diketahui oleh masyarakat banyak.

Salah satu kerajinan tangan yang populer menjadi cinderamata khas Kalimantan adalah perahu naga. Sekilas dari bentuknya, orang awam mengira bahan utama pembuatan perahu naga itu adalah kayu.

Ada benarnya memang, tapi kayu hanya elemen pelengkap saja. Bahan utamanya ternyata adalah getah dari pohon nyatu, yakni sejenis pohon yang banyak hidup di hutan Kalimantan Tengah.

Salah seorang pengrajin, Pransius, 34, menekuni pembuatan kerajinan perahu naga sejak lima belas tahun lalu. Ia mempelajari keahlian itu dari orangtuanya yang dilestarikan secara turun temurun. Ia menjelaskan cara pembuatan kerajinan tangan tersebut di areal pameran Pekan Budaya Dayak 2013, akhir pekan lalu.

"Bahannya berupa karet alam dari getah nyatu. Pertama-tama, karet alam ini harus direbus dalam air panas hingga lunak," ujarnya kepada Media Indonesia.

Langkah selanjutnya adalah membersihkan hasil sadapan itu dari kotoran-kotoran yang menempel. Karet yang sudah bersih kemudian siap untuk digunakan langsung atau diberi pewarna terlebih dulu dengan pewarna tekstil. Bahan utama pun siap untuk dibentuk sesuai dengan model perahu yang ingin dibuat.

Bahan kayu hanya digunakan sebagai rangka dasar perahu. Bagian luarnya tetap harus dilapisi karet agar bisa disambungkan dengan bentuk-bentuk lainnya. "Kalau sudah biasa, saya bisa buat perahu naga ukuran kecil (panjang ±20cm) hingga lima buah dalam sehari. Saya jual antara Rp125-150 ribu tergantung harga bahan bakunya," sahut lelaki asal Kabupaten Kapuas, Palangkaraya itu.

Peminat hasil kerajinannya beragam. Apalagi, ia mampu membuat bentuk perahu naga sesuai dengan pesanan. Ia mengaku pernah membuat perahu naga dengan panjang kurang lebih 1 meter dan detail yang lebih rumit.

"Perawatannya enggak sulit. Perahu ini tidak apa-apa kalau terkena air. Asal jangan terkena api atau disimpan di bawah sinar matahari langsung saja, karetnya bisa rusak," cetusnya. (Din)


()

Dibalik Pilar Konstitusi (7)

28 Agustus 2014 21:59 wib

Mata Najwa, Kamis (28/08/2014): Mata Najwa episode kali ini membahas tema 'Dibalik Pilar Konstitusi'. Hadir di Mata Najwa kali ini Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva.