God Bless Tetap Berjaya di Usia Mapan

- 13 Mei 2013 14:51 wib
MI/Adam Dwi/bd
MI/Adam Dwi/bd

Metrotvnews.com, Jakarta: Karier selama 40 tahun menunjukkan God Bless laik meraih predikat sebagai band legenda hidup. Sebuah biografi tentang mereka pun siap diluncurkan.

Sambil menarik napas dalam-dalam, Ahmad Albar, 66, terlihat sedikit gugup. Matanya menatap tepat pada sebuah nasi tumpeng yang berada di hadapannya. Di sebelah ada sebuah kue bertuliskan angka '40'.

Tanpa banyak bicara, vokalis kelompok musik rock God Bless itu langsung meniup beberapa batang lilin yang telah berpijar. “Satu, dua, tiga...,” suara sederet musikus hingga undangan sejurus meledak.

Suasana akrab antara Iyek--sapaan Ahmad--dan rekan-rekannya terlihat jelas pada acara syukuran bertajuk 40 Tahun Good Bless di Industri Musik Indonesia, itu, yang berlangsung di Twin Plaza Hotel, Jakarta Barat, pertengahan pekan ini.

Ada yang menarik karena semua personel God Bless merasa usia 40 merupakan 'usia awal' dalam menjalankan kehidupan bermusik yang sesungguhnya. “Kami berharap (suatu waktu) bisa melebihi usia ke-50 Rolling Stones,” ujar Iyek, santai.

Selain Iyek, God Bless beranggotakan Ian Antono (gitaris), Donny Fattah (basis), Abadi Soesman (keyboardist), dan additional player Fajar Satritama (drumer). Iyek dan Donny ialah dua orang yang masih bertahan dari awal pembentukan band tersebut.

“Sudah 20 kali kami gonta-ganti formasi (personel) sepanjang 40 tahun ini. Usia ini yang pantas ditiru,” timpal Donny, santai, seraya ikut mencicipi tumpeng yang telah dipotong Iyek, sore itu.

Meski demikian, Iyek ataupun Donny mengaku masih menjaga fisik dengan berolahraga secara rutin di rumah. “Empat puluh tahun lama sekali. Saya dan Abadi sudah bermain musik sejak remaja hingga punya cucu kini. Tinggal Iyek dan Ian yang belum punya (cucu),” sambung Donny, terkekeh.

Biografi

Lewat perayaan ulang tahun itu, ada sebuah hal menarik. Kisah perjalanan dari awal pembentukan God Bless hingga puncak kejayaan mereka akan diabadikan lewat sebuah buku biografi. Menurut rencana, buku itu akan diluncurkan pada Juli mendatang.

“Dalam proses pengumpulan materi, banyak kesulitan yang kami dapatkan.

Dokumentasi foto era 70-an, misalnya, sulit kami peroleh. Apalagi, data-data tentang konser cukup minim,” ujar Dudi Iman Hartono, penulis buku yang berjudul sementara 40 Tahun God Bless itu.

Ada kesulitan lainnya yang sempat membuat Dudi dan timnya kewalahan, yaitu kisah-kisah yang berbeda versi. Hal itu membuat Dudi harus mengambil jalan tengah untuk menyatukan persepsi tentang God Bless itu sendiri.

Pada era 80-an saat Teddy Sujaya (drumer) masih bersama God Bless, misalnya, ada kisah Teddy sempat diculik karena dianggap berkhianat dalam band. “Nah, ini yang kami telusuri dan verifikasi. Kisah-kisah yang tak terungkap kami masukkan dalam buku,” jelas produser di sebuah televisi swasta itu.

Tidak hanya itu, arti nama God Bless juga sempat menjadi polemik. Apalagi, nama itu menjadi arti yang mampu bertahan hingga saat ini. Pada suatu hari, Iyek mendapatkan kartu pos dari Belanda. Nah, di dalam kartu pos itu tertulis ‘God bless’ (Tuhan memberkati). “Dari kartu pos itulah, nama band ini resmi digunakan sejak 5 Mei 1973,” paparnya, serius.

Buku itu juga menyajikan pengalaman saat God Bless tampil sebagai pembuka pada konser kelompok musik rock legendaris dunia, Deep Purple, di Jakarta (1975), secara detail.

Kisah-kisah kehidupan pribadi para personel awal hingga sekarang juga disajikan secara deskriptif. Begitu pula, benang merahnya dengan Gong 2000. “Kami sempat berdiskusi dengan Remy Soetansyah (alm) tentang awal rencana pembuatan buku ini. Banyak masukan yang ia lontarkan,” ungkap Dudi. (Iwan Kurniawan)


()

CELEBRITAS
MORE

Mata Najwa: Melawan Arus

02 September 2014 21:09 wib

Mata Najwa: Perbedaan pendapat merupakan hal yang umum terjadi dan dijamin kebebasannya dalam UU negara. Namun ternyata di negara demokratis ini, perbedaan pendapat dan pandangan justru sulit diterima di sejumlah partai politik.  Sejumlah anggota yang memilih untuk melawan arus, harus menghadapi resiko menerima sanksi.  Reformasi dalam partai politik pun seakan tak berbunyi. Sebagai pilar demokrasi, partai politik malah jadi sumber masalah. Kaderisasi tak berjalan, hanya mencari kawan yang sepaham, sementara idealism tak lagi diusung ke depan.   Namun…