Inilah Proses Pembuatan Vaksin dengan Bioteknologi

- 04 Juli 2013 20:50 wib
Dok. AIRC UNAIR
Dok. AIRC UNAIR

Metrotvnews.com, Jakarta: Bioteknologi kini semakin banyak digunakan didalam berbagai kehidupan masyarakat. Teknologi yang merupakan aplikasi dari penggunaan proses molekular atau selular untuk menghasilkan suatu produk ini memungkinkan manusia untuk memperbaiki kualitas hidup seperti untuk ketahanan pangan, mendukung keberlangsungan sumber energi dan pengembangan vaksin serta diagnosa.

Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Prof. Amin Subandrio, MD, PhD, Clin. Microbiol mengatakan dalam bidang kedokteran, penggunaan Bioteknologi dalam pengembangan vaksin sudah dilakukan atas beberapa vaksin untuk mengantisipasi mewabahnya pandemi suatu penyakit. Ditemui pada Kamis (4/7), Prof. Amin mengatakan pengembangan vaksin menggunakan mikroba dan antigen. Saat ini yang sedang dikembangkan adalah vaksin Avian Influenza.

Proses membuat vaksin dengan Bioteknologi dimulai dengan mengisolasi virus penyakitnya terlebih dahulu. Proses berlanjut sequence dan kemudian menghasilkan bibit vaksin. Hanya saja saat ini kapasitas Indonesia dalam memproduksi vaksin masih terbilang sedikit yaitu dua juta dosis per minggu.

Untuk memproduksi vaksin sebanyak 100 juta dosis maka diperlukan waktu selama 50 minggu. Prof Amin mengatakan untuk mendukung peningkatan hasil produksi vaksin pihak industri sebagai pengembang harus sudah siap dengan kapasitas dan kemampuan, paling tidak untuk melayani kebutuhan seluruh rakyat Indonesia.

Selain kemampuan yang masih terbatas, pengembangan vaksin juga memakan waktu yang cukup lama yaitu 8-15 tahun. Setelah diproduksi, vaksin harus melewati tahapan Clinical Trial yang berlangsung dalam tiga langkah sebelum bisa dilempar ke pasaran. "Ada kebijakan jika ada pandemi maka tiga tahapan Clinical Trial boleh tidak semua dijalankan," jelasnya.

Penggunaan Bioteknologi dalam membuat obat herbal terstandar juga sangat dimungkinkan. Saat ini baru 10% dari 3000 jenis tanaman obat yang diteliti yang bisa digunakan dalam pembuatan obat herbal. Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah sepakat mengembangkan obat herbal anti diabetes, anti asam urat dan anti kolesterol yang juga akan menggandeng pihak industri agar bisa sampai ke masyarakat.

Melalui Bioteknologi, perusahaan farmasi diharapkan bisa mengembangkan tanaman obat menjadi obat herbal berstandar atau vito farmaka. Prof. Amin mengatakan jika ingin mengembangkan obat herbal berstandar maka dimulai dari melakukan standarisasi cara menanamnya karena proses penanaman yang berbeda, kondisi tanah dan udara yang berbeda sangat mempengaruhi khasiat dari tanaman obat tersebut.

Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Maura Linda Sitanggang proses menemukan obat sangat panjang dan mahal. Kebijakan nasional terkait obat-obatan di Indonesia harus memastikan beberapa hal seperti ketersediaan, jumlah yang memadai, pendistribusian yang adil dan keterjangkauan. Ia juga mengatakan obat yang beredar harus dipastikan aman dikonsumsi banyak orang. Terkait pengembangan obat baru, Maura mendorong para peneliti muda untuk terus bekerja sehingga dalam menemukan obat, Indonesia bisa menciptakan temuan baru dan tidak hanya menjadi follower dari negara lain. (Vera Erwaty Ismainy)


()

TREND
MORE

Dibalik Pilar Konstitusi (7)

28 Agustus 2014 21:59 wib

Mata Najwa, Kamis (28/08/2014): Mata Najwa episode kali ini membahas tema 'Dibalik Pilar Konstitusi'. Hadir di Mata Najwa kali ini Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva.