40 Juta Anak Usia Sekolah Perokok Aktif

- 28 Juli 2013 19:23 wib
Antara/Fahrul Jayadiputra/vg
Antara/Fahrul Jayadiputra/vg

Metrotvnews.com, Jakarta: Genderang antirokok yang dikampanyekan sejumlah kalangan terhadap tembakau tak serta merta menunjukkan angka penurunan konsumsi rokok.

Data yang dikutip dari World Helath Organization (WHO) tahun 2004 terdapat 5 juta kasus kematian akibat penyakit yang disumbang konsumsi rokok setiap tahunnya. Sebagian besar atau 70 persen kasus tersebut terjadi di negara berkembang, termasuk di dalamnya Asia dan Indonesia. Diperkirakan, jumlah perokok dunia pada 2025 sebanyak 650 juta orang, atau terdapat 10 juta kematian per tahun.

Kondisi itu membuat Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait angkat bicara. Mengingat banyak pula anak-anak yang sudah mengonsumsi tembakau sejak dini.

Pihaknya mengimbau agar kawasan tanpa rokok itu dimulai dari rumah. Sebab tercatat 121 juta keluarga di Indonesia menjadi perokok dan anak pun menjadi perokok pasif. Ditambah lagi, 40 juta anak usia 10-14 tahun menjadi perokok aktif.

"Untuk membuat anak tidak terkena rokok dan menjadi perokok maka Kawasan Tanpa Rokok (KTR) mulai dari rumah. Makanya seorang bapak yang perokok nantinya berhenti merokok," kata Arist, Minggu (28/7).

Menurutnya, Indonesia terkenal dengan 'baby smoker'. Ini dikarenakan banyak anak berumur di bawah satu tahun sudah merokok. Oleh karena itu, kata Arist, jika orang tua menginginkan anaknya tidak terpapar asap rokok maka orangtuanya harus berhenti merokok. "Kita tahu kalau dalam rumah ada yang merokok otomatis anak pun menjadi perokok pasif," tukasnya.

Ia mengungkapkan saat ini perusahaan rokok menyasar perokok pemula. Karena itu, iklan rokok sering diperankan anak muda. Perusahaan rokok tidak menggunakan iklan orang tua karena perokok aktif yang sudah adiktif tidak memerlukan iklan rokok. "Sudah harus segera dikampanyekan KTR dalam rumah ini," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Depok Ani Rubiani mengatakan, ada tujuh wilayah KTR. Di antaranya adalah tempat bermain anak, tempat pendidikan, rumah ibadah, perkantoran, dan tempat umum. "Di kawasan KTR itu tidak boleh ada iklan rokok," pungkasnya. (Kisar Rajaguguk)


()

MUSIK
MORE
CELEBRITAS
MORE
FASHION
MORE
TREND
MORE

Mata Najwa: Babak Baru Indonesia (6)

23 Juli 2014 23:23 wib

Mata Najwa, Rabu (23/07/2014): di Mata Najwa kali ini dengan tema 'Babak Baru Indonesia', hadir di Mata Najwa yaitu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto. Pakar hukum tata negara, Zaenal Arifin Mochtar. Direktur eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha dan wakil presiden terpilih Jusuf Kalla